• Follow Us On : 
Pengabdian Dosen UMRI, LLHPB PWA Riau, sampaikan materi pengelolaan sampah plastik pengganti pot

Pengabdian Dosen UMRI, LLHPB PWA Riau, sampaikan materi pengelolaan sampah plastik pengganti pot

Senin, 06 September 2021 - 16:53:46 WIB

PEKANBARU - Fenomena sampah plastik selama ini hanya menjadi limbah masyarakat yang tidak punya manfaat sama sekali. Hal ini terlihat dengan banyaknya sampah plastik yang tidak pernah ada nilai nya untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan proses penguraian sampah plastik yang terbuat dari bahan dasar minyak bumi dengan aneka bahan lain yang ditambahkan dalam pembuatannya, tidak dapat terurai.

Berbeda dengan sampah organik seperti kayu, rumput, serta makanan yang dibuang mengalami proses yang disebut biodegradasi ketika tertimbun di dalam tanah, di mana bahan-bahan ini diubah oleh bakteri di dalam tanah menjadi senyawa yang berguna. Tidak demikian halnya dengan plastik.

Bertepatan dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Wilayah Aisyiyah (LLHPB PWA) Riau berkesempatan menyampaikan materi tentang pengelolaan sampah plastik menjadi pot tanaman kepada Ibu-ibu RW 04 Kecamatan Tuah Madani.

Kegiatan ini juga digelar sebagai bentuk pengabdian dosen UMRI di Kelurahan Tuah Madani Pekanbaru. Dosen yang melakukan pengabdian yakni Dr. Wirdati Irma S,Si, Dr. Sri Hilma Siregar, . M.Sc, Hasamalina, M.Si dan Neng Sholehah S.Pd., M.Pd.

Gelaran acara tersebut juga mendapatkan dukungan dari ketua RW 04 Syarullah yang juga merupakan dosen di Universitas Lancang Kuning (Unilak).

Lebih lanjut dalam materi yang disampaikan, ada beberapa cara mengelola sampah, pertama pilihlah sampah plastik dengan bahan yang tebal dan tidak mudah sobek seperti bungkus ditergen dan minyak goreng. Selanjutnya cuci terlebih dahulu sampah plastik hingga bersih, potong bagian atas sehingga menyerupai pot bunga atau tanaman. Kemudian isi dengan media tanaman seperti tanah yang subur. 

Sampah plastik seperti bekas botol minum bisa dijadikan sovenir dan tempat air.

Walaupun kantong plastik standar yang umumnya berbahan polyethylene tidak dapat mengalami biodegradasi, namun sebenarnya pada plastik dapat terjadi fotodegradasi, yakni menjadi rapuh dan terpecah-pecah bila terkena pancaran ultraviolet dari sinar matahari. Tapi tentu saja, diperlukan waktu.

Dalam pemaparan yang disampaikan Wirdati Irma selaku Ketua mengatakan bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan dampak buruk.

Plastik, dengan bahan-bahan beracun yang terkandung di dalamnya, dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan maupun lingkungan. Dampaknya yang serius bila masuk ke dalam tubuh dapat memicu terjadinya:

Kanker, Endometriosis, Kerusakan saraf, Disrupsi endokrin, Cacat lahir, Kelainan perkembangan anak, Gangguan kesuburan, Gangguan organ reproduksi, Kerusakan sistem imun.

Asma, Kerusakan organ multipel.

Selain itu, plastik dapat menimbulkan pencemaran, baik di tanah, air, maupun udara. Di tanah plastik dapat menghalangi peresapan air dan sinar matahari, sehingga mengurangi kesuburan tanah dan dapat menyebabkan banjir.

Sampah plastik memberi sumbangsih 90% sampah yang ada di lautan. Berbeda dengan sampah plastik di tanah yang mungkin tidak terkena sinar matahari apabila tertimbun, sampah plastik di lautan secara leluasa dapat terpapar sinar ultraviolet matahari. Seperti disebut di atas, kemudian terjadilah fotodegradasi yang memecah plastik menjadi ukuran kecil-kecil. 

Akhirnya bahan beracun dari plastik yang telah terpecah-pecah itu, misalnya bisphenol A (BPA), masuk dalam rantai makanan, termakan oleh makhluk hidup di laut, dari yang terkecil hingga yang terbesar. Dan manusia yang mungkin berada dalam urutan teratas rantai makanan tersebut, mendapatkan efek akumulasi dari bahan-bahan beracun itu.

Di udara, komponen plastik yang bertebaran dapat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Sebagai contoh, plastik jenis polyvinyl chloride (PVC) yang mengandung halogen, akan memproduksi dioksin apabila dibakar. Dioksin adalah salah satu komponen paling berbahaya yang dihasilkan oleh manusia. 

Karena itu, jaga kesehatan Anda maupun lingkungan dengan memilih dan mengelola plastik secara tepat. Saat berbelanja, bawalah tas sendiri dari rumah. Manfaatkan sampah plastik yang tidak terpakai menjadi benda yang berguna, misalnya pot tanaman. Atau Anda bisa mengganti plastik yang biasa yang Anda pakai dengan plastik biodegradable yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, hindari membakar sampah plastik di ruangan terbuka maupun ruangan tertutup. (Man)


Akses Serambiriau.com Via Mobile m.Serambiriau.com
TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT

Dinas PUPR Pekanbaru Siapkan Anggaran Rp13 Miliar Benahi 375 Titik Banjir Tahun Ini

Rabu, 20 Januari 2021 - 16:04:35 WIB

FTBM Riau Sambangi Khadijah, Anak Penyandang Stunting

Kamis, 12 Maret 2020 - 08:59:40 WIB

Tiga Bulan Belum Terima Single Salery, Pegawai Pemko Mulai Malas-malasan

Senin, 17 Desember 2018 - 20:10:15 WIB

Distankan Pekanbaru Usulkan Perwako Pemanfaatan Lahan

Sabtu, 20 Juni 2020 - 09:09:10 WIB

Pastikan Bantuan Covid-19 Tetap Sasaran, Komisi I DPRD Pekanbaru Panggil Seluruh Lurah dan Camat

Rabu, 01 Juli 2020 - 14:36:23 WIB

Wako Ajak Meriahkan Pawai Kebudayaan Sambut Pelantikan Jokowi-Ma'ruf

Senin, 21 Oktober 2019 - 11:10:11 WIB

BERGABUNG DI SINI