Pengaruh Regulasi Diri Mahasiswa Akuntansi

Terhadap Perkuliahan Daring Selama Pandemi Covid-19

Terhadap Perkuliahan Daring Selama Pandemi Covid-19

Pada akhir 2019, virus COVID-19 pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina. Dalam waktu singkat virus ini telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia. 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya 2 warga Indonesia yang merupakan warga Depok, Jawa Barat terkonfirmasi positif Covid-19, Pemerintah untuk pertama kalinya mengeluarkan kebijakan mengenai Physical Distancing atau menjaga jarak aman agar tidak berkerumun banyak orang.

Pengaruh pandemi covid-19 masuk di setiap Universitas sekitar bulan maret 2020. Pada saat kampus mengikuti arahan dari pemerintah untuk melaksanakan pem belajaran secara daring (online), maka pembelajaran offline ditiadakan. Ada pun dampak covid bagi setiap kampus, Siswa merasa dirugikan karena harus kuliah secara online dan minta pertanggung jawaban perguruan tinggi tempat mereka belajar. Salah satu

banyak keluhan mahasiswa menuturkan bahwa “Kami harus membayar ekstra untuk mendapat layanan video tentang bahan-bahan kuliah yang tidak bisa diakses dengan

komputer” (17/05/2020).

Bagaiaman Dampak Metode Pembelajaran akutansi prilaku Daring/ Online Bagi Mahasiswa dan Dosen?

Surat edaran Mendikbud nomor 36962/MPK.A /HK/2020, termasuk kampus yang harus diselenggara- kan secara daring atau online secara tiba-tiba membuat para mahasiswa dan dosen kaget, walaupun sudah dijalankan sebelum pandemi COVID pembelajaran online tapi ini hanya beberapa kali saja dalam satu semester, sementara ini harus semua pembelajaran, Bagaimana dampak metode pembelajaran daring/online bagi mahasiswa dan dosen, Bagaimana metode yang inovatif dan kreatif pada metode daring dilakukan dengan jarak jauh.

 Para dosen dalam waktu singkat harus mengubah semua metode pembelajaran, perubahan silabus juga harus segera baik itu pembelajaran teori maupun praktikum. Mahasiswa banyak yang mengalami kesulitan karena tidak semua mempunyai fasiltas yang dibutuhkan mulai dari laptop atau handphone yang memenuhi syarat sampai kuota internet yang harus disiapkan ditambah lagi tugas-tugas mata kuliah yang terus menumpuk. Para dosen harus segera menyesuaikan dengan model pembelajaran online sementara masih banyak juga dosen yang gaptek dengan beberapa aplikasi baru.

Sebelum Pandemi Covid-19, sebagian Instansi Pendidikan berangsur-angsur telah merancang Pendidikan berbasis digitalisasi guna bersaing dalam kancah Internasional Hal tersebut, telah terealisasi oleh beberapa instansi pendidikan. Hemat saya, ini telah dirancang sedemikian rupa sehingga menuai hasil yang mumpuni. Hal itu juga dicetuskan sebagai upaya untuk mengikuti laju revolusi teknologi. Garis bawahi “hanya sebagian” tidak “keseluruhan”.

Hal Tidak lama ini, dan juga masih sedang berlangsung, “Covid-19” merebak di dunia. Salah satunya mampir di negara tercinta, Indonesia. Karena kehadirannya, berbagai kebijakan di ranah pendidikan menjadi berubah. Sistem belajar tatap muka, diubah menjadi sistem belajar daring.

Perangkat yang dimaksud seperti laptop, handphone dan paket internet yang dapat mendukung proses belajar secara daring sehingga secara timbal balik siswa dan mahasiswa dapat mengakses materi pelajaran yang disampaikan oleh guru/dosen. Sebaliknya, guru/dosen juga dapat menanggapi berbagai pertanyaan yang disampaikan oleh sang murid atau para mahasiswanya. Namun permasalahannya, tidak semua siswa memiliki gadget.

Dalam kenyataannya, jaringan internet yang digunakan siswa/mahasiswa untuk belajar secara daring tidak selamanya lancar, alias tidak stabil. Acapkali saat proses belajar mengajar secara daring berlangsung, jaringan terganggu. Maklum, kekuatan sinyal di kota dan di kampung jauh berbeda. Akibatnya, materi yang disampaikan guru/dosen tidak dapat dipahami siswa dan mahasiswa secara maksimal.

Dengan berlarutnya belajar daring, semakin menyadarkan kita bahwa belajar tatap muka dengan ditemani oleh sosok guru/dosen amat sangat dibutuhkan. Terlepas dari itu, semoga keluhan di atas akan segera terpecahkan dengan hilangnya Covid-19.

Penulis: Velicha Artinia Putri dan Elfani Mandayanti

Universitas Muhammadiyah Riau

Berita Lainnya

Index